Kebanyakan dari beberapa wanita pernah mengalami kondisi pegal, kram
atau kesemutan yang sering kali dianggap biasa. Aktivitas yang harus
dijalankan dari pagi hingga sore membuat kondisi tubuh sering mengalami
hal ini.
Namun tahukah Anda jika ketiga gejala tersebut berbeda? Jika
tidak ditangani dengan tepat bisa memicu kerusakan pada syaraf.
Dalam bahasa medis, kesemutan sering disebut sebagai parestesia. Suatu sensasi yang dirasakan tanpa ada stimulus dari luar. Sensasi parestesi
ini tidak hanya rasa 'kesemutan', namun bisa juga rasa panas, rasa
seperti tertusuk-tusuk, 'greyengan'. Rasa kesemutan dapat dirasakan di
tangan, kaki di muka, maupun di seluruh bagian tubuh kita.
Pada
dasarnya kesemutan merupakan suatu gejala manifestasi dari gangguan
sistem saraf sensorik akibat rangsang listrik di sistem itu tidak
tersalur secara penuh dengan sebab macam-macam. Yang paling sederhana,
misalnya, jalan darah tertutup akibat satu bagian tubuh tertentu ditekuk
terlalu lama.
Kesemutan
yang tidak disertai gejala-gejala lain biasanya menandakan adanya
gangguan pada reseptor di kulit atau pada cabang-cabang saraf tepi.
Namun kita mesti lebih waspada jika ada gejala lain di luar kesemutan.
Bukan hanya kelumpuhan, kesemutan bisa juga disertai gangguan
penglihatan, pendengaran, gabungan keduanya, atau lainnya.
Kerusakan Saraf
Mungkin
banyak yang menganggap kram, kesemutan, atau mati rasa di tangan atau
kaki saat duduk terlalu lama sebagai hal biasa. Mulai saat ini, anggapan
tersebut sudah harus disingkirkan. Gejala-gejala tersebut, terutama
yang tanpa sebab, merupakan pertanda adanya kerusakan saraf yang disebut
neuropati.
Neuropati adalah kerusakan saraf karena penyakit, trauma pada saraf, atau dapat juga karena efek samping dari suatu penyakit sistemik. Gangguan ini dapat mengancam siapa saja. Namun, risikonya lebih besar, sekitar satu dari empat orang berusia sekitar 40 tahun ke atas dan satu dari dua orang penderita diabetes. Neuropati juga dapat menyerang seseorang yang mengalami defisiensi vitamin B1, B6, dan B12.
“Neuropati sering kali tidak disadari sebagai penyakit, melainkan kondisi yang umum terjadi. Padahal, jika dibiarkan, neuropati dapat mengganggu mobilitas penderitanya,” jelas Dr.Gea Pandhita S, M.Kes, Sp.S, dokter spesialis syaraf
Dr.
Gea menyebutkan, gejala neuropati meliputi nyeri seperti terbakar di
tangan dan kaki, rasa kebas, mati rasa, kram, kaku-kaku, kesemutan,
kulit hipersensitif, kulit mengkilap tidak wajar, rambut rontok pada
area tertentu, kelemahan tubuh dan anggota gerak, serta atrofi otot atau
otot mengecil. Namun, menurunya, perbedaan kesemutan atau kram biasa
adalah gejala neuropati berlangsung spontan tanpa provokasi terlebih dahulu.
“Jika keluhannya membaik atau hilang saat memperbaiki posisi atau terjadi pada saat-saat tertentu saja, itu bukan neuropati. Tapi itu bisa jadi pertanda awal adanya gangguan peredaran darah,” ungkapnya.
Pada umumnya, neuropati
terbagi menjadi beberapa jenis. Pertama, karena penuaan. Lebih dari 26%
orang berusia di atas 40 tahun menderita gangguan ini. Apabila tidak
diterapi dengan benar, neuropati dapat menjadi parah dan mengarah
ke penyakit-penyakit saraf yang lebih berat. Ada juga neuropati
diabetikum karena penyakit diabetes.
Lebih dari 50% pasien diabetes mengalami neuropati,
terutama pada penderita dengan kadar gula darah tidak terkontrol.
Gejala lain yang menyertainya di antaranya gangguan pencernaan, mual,
muntah,diare,sulit buang air besar, pusing, pingsan, masalah buang air
kecil, disfungsi ereksi, hingga kekeringan vagina.
“Pada beberapa pasien malah bisa tanpa gejala,” sebutnya.
Cegah dengan Olahraga
Dengan
berolahraga, Anda bisa mengurangi bahkan mencegah timbulnya pegal, kram
dan kesemutan. Namun ada beberapa tips yang harus Anda lakukan sebelum
berolahraga.
Melakukan
pemanasan sebelum berolahraga sangatlah penting agar syaraf tidak kaget
pada gerakan yang ekstrem atau jarang dilakukan. Seringkali syaraf
mengalami. Jika Anda melakukan gerakan dengan benar atau sesuai aturan,
syaraf dan pembuluh darah Anda tidak akan terganggu.
Jika
berolahraga, usahakan tidak melakukan gerakan-gerakan yang
tergesa-gesa. Berenang misalnya, biasanya begitu tiba di kolam renang,
orang langsung lompat ke kolam renang lalu berenang secara
terus-menerus. Padahal, ini tidak baik karena gerakan-gerakan yang
dilakukan bisa mengakibatkan terganggunya syaraf penggerak otot yang
pada akhirnya bisa mengakibatkan kram, kesemutan, juga kebas.
Setelah berolahraga, lakukan pendinginan atau cooling down. Hal ini penting agar peredaran darah dalam tubuh kamu kembali lancar. Dengan begitu, suplai oksigen ke tubuh juga lancar.
Tag :
Sehat

0 Komentar untuk "Bedakan Antara Kram, Pegal dan Kesemutan"