Bedakan Antara Kram, Pegal dan Kesemutan

http://catrindo.blogspot.com/2014/07/bedakan-antara-kram-pegal-dan-kesemutan.html

Kebanyakan dari beberapa wanita pernah mengalami kondisi pegal, kram atau kesemutan yang sering kali dianggap biasa. Aktivitas yang harus dijalankan dari pagi hingga sore membuat kondisi tubuh sering mengalami hal ini. 

Namun tahukah Anda jika ketiga gejala tersebut berbeda? Jika tidak ditangani dengan tepat bisa memicu kerusakan pada syaraf. 
 

Dalam bahasa medis, kesemutan sering disebut sebagai parestesia. Suatu sensasi yang dirasakan tanpa ada stimulus dari luar. Sensasi parestesi ini tidak hanya rasa 'kesemutan', namun bisa juga rasa panas, rasa seperti tertusuk-tusuk, 'greyengan'. Rasa kesemutan dapat dirasakan di tangan, kaki di muka, maupun di seluruh bagian tubuh kita. 


Pada dasarnya kesemutan merupakan suatu gejala manifestasi dari gangguan sistem saraf sensorik akibat rangsang listrik di sistem itu tidak tersalur secara penuh dengan sebab macam-macam. Yang paling sederhana, misalnya, jalan darah tertutup akibat satu bagian tubuh tertentu ditekuk terlalu lama.


Kesemutan yang tidak disertai gejala-gejala lain biasanya menandakan adanya gangguan pada reseptor di kulit atau pada cabang-cabang saraf tepi. Namun kita mesti lebih waspada jika ada gejala lain di luar kesemutan. Bukan hanya kelumpuhan, kesemutan bisa juga disertai gangguan penglihatan, pendengaran, gabungan keduanya, atau lainnya.

Kerusakan Saraf

Mungkin banyak yang menganggap kram, kesemutan, atau mati rasa di tangan atau kaki saat duduk terlalu lama sebagai hal biasa. Mulai saat ini, anggapan tersebut sudah harus disingkirkan. Gejala-gejala tersebut, terutama yang tanpa sebab, merupakan pertanda adanya kerusakan saraf yang disebut neuropati.
 
 Neuropati adalah kerusakan saraf karena penyakit, trauma pada saraf, atau dapat juga karena efek samping dari suatu penyakit sistemik. Gangguan ini dapat mengancam siapa saja. Namun, risikonya lebih besar, sekitar satu dari empat orang berusia sekitar 40 tahun ke atas dan satu dari dua orang penderita diabetes. Neuropati juga dapat menyerang seseorang yang mengalami defisiensi vitamin B1, B6, dan B12. 

Neuropati sering kali tidak disadari sebagai penyakit, melainkan kondisi yang umum terjadi. Padahal, jika dibiarkan, neuropati dapat mengganggu mobilitas penderitanya,” jelas Dr.Gea Pandhita S, M.Kes, Sp.S, dokter spesialis syaraf


 Dr. Gea menyebutkan, gejala neuropati meliputi nyeri seperti terbakar di tangan dan kaki, rasa kebas, mati rasa, kram, kaku-kaku, kesemutan, kulit hipersensitif, kulit mengkilap tidak wajar, rambut rontok pada area tertentu, kelemahan tubuh dan anggota gerak, serta atrofi otot atau otot mengecil. Namun, menurunya, perbedaan kesemutan atau kram biasa adalah gejala neuropati berlangsung spontan tanpa provokasi terlebih dahulu.

 “Jika keluhannya membaik atau hilang saat memperbaiki posisi atau terjadi pada saat-saat tertentu saja, itu bukan neuropati. Tapi itu bisa jadi pertanda awal adanya gangguan peredaran darah,” ungkapnya.


Pada umumnya, neuropati terbagi menjadi beberapa jenis. Pertama, karena penuaan. Lebih dari 26% orang berusia di atas 40 tahun menderita gangguan ini. Apabila tidak diterapi dengan benar, neuropati dapat menjadi parah dan mengarah ke penyakit-penyakit saraf yang lebih berat. Ada juga neuropati diabetikum karena penyakit diabetes. 

Lebih dari 50% pasien diabetes mengalami neuropati, terutama pada penderita dengan kadar gula darah tidak terkontrol. Gejala lain yang menyertainya di antaranya gangguan pencernaan, mual, muntah,diare,sulit buang air besar, pusing, pingsan, masalah buang air kecil, disfungsi ereksi, hingga kekeringan vagina.
“Pada beberapa pasien malah bisa tanpa gejala,” sebutnya.

Cegah dengan Olahraga

Dengan berolahraga, Anda bisa mengurangi bahkan mencegah timbulnya pegal, kram dan kesemutan. Namun ada beberapa tips yang harus Anda lakukan sebelum berolahraga.

Melakukan pemanasan sebelum berolahraga sangatlah penting agar syaraf tidak kaget pada gerakan yang ekstrem atau jarang dilakukan. Seringkali syaraf mengalami. Jika Anda melakukan gerakan dengan benar atau sesuai aturan, syaraf dan pembuluh darah Anda tidak akan terganggu.

Jika berolahraga, usahakan tidak melakukan gerakan-gerakan yang tergesa-gesa. Berenang misalnya, biasanya begitu tiba di kolam renang, orang langsung lompat ke kolam renang lalu berenang secara terus-menerus. Padahal, ini tidak baik karena gerakan-gerakan yang dilakukan bisa mengakibatkan terganggunya syaraf penggerak otot yang pada akhirnya bisa mengakibatkan kram, kesemutan, juga kebas. 

Setelah berolahraga, lakukan pendinginan atau cooling down. Hal ini penting agar peredaran darah dalam tubuh kamu kembali lancar. Dengan begitu, suplai oksigen ke tubuh juga lancar.

Tag : Sehat
0 Komentar untuk "Bedakan Antara Kram, Pegal dan Kesemutan"

Back To Top